Tanpa biaya, tanpa iklan. Ikuti ceritanya dan kami kabari saat episode berikutnya terbit.
Diskors dari sekolah, Fikri dikirim ke desa di Sidrap. Kakeknya pendiam, tangannya rematik, dan mulai sering lupa.
Setiap Jumat malam, sebuah buku yang dipinjam tahun 1983 kembali ke perpustakaan. Bersama sebuah pesan.
Guru kontrak setahun, pemandu kebun pala, dan pulau yang tidak suka orang tergesa.
Suaminya kena PHK, anaknya malu, dan tetangganya pemilik toko kue. Sri cuma punya oven tangkring dan resep ibunya.
Tiga bulan, setiap pagi, ia memesan dua gelas kopi. Hanya satu yang diminum.
Dua puluh tiga titipan, satu kapal ke Ambon, dan sehelai kebaya pengantin yang hilang di Makassar.
Buku catatan yang tertinggal di mobil travel, dan pemuda yang mengembalikannya di tengah kabut.
Delapan surat yang ditulis, dilipat, lalu disimpan. Delapan cerita tentang kata-kata yang hampir tidak sampai.
Kantor kelurahan kecil, rapat video pertama dengan Pak Camat, dan satu tombol bergambar mikrofon yang tidak pernah ditekan.
Setiap Jumat, sepasang sandal butut di teras masjid hilang. Gantinya sandal kulit baru yang persis sama.
Warung kecil di Bandung yang hanya buka saat hujan, dan masakan yang mengembalikan kenangan.
Liburan yang membosankan di bengkel sepeda kakek, sebuah kaleng tabungan, dan sepeda ontel tua milik nenek.
Kemarau panjang di sebuah dusun di Bima, dan kendi tanah liat yang hanya terisi selama airnya dibagi.
Tutup buku akhir bulan, telepon dari lantai yang sudah lama kosong, dan satu nama yang belum dibayar sejak 2007.
Pengurus OSIS SMK butuh dana pentas seni, dan satu-satunya ide mereka adalah membuka lapak di lantai dua, tepat di atas kantin Bu Rum.
Kakek tujuh puluh empat tahun bersikeras berjalan kaki ke makam istrinya di Gunungkidul. Cucunya yang sedang menunggu panggilan kerja terpaksa menemani.
Anak warung kopi, gadis yang membeku di depan mikrofon, dan anak asrama dari hulu Kapuas melawan sekolah juara bertahan.
Setiap Selasa, pesanan yang sama datang untuk rumah yang sudah lama kosong. Dan selalu ada yang membayar.
Desainer freelance, klien toko roti yang rewel, dan logo yang tidak pernah selesai.
Peta tulisan tangan kakek, sebuah pulau tempat barang-barang hilang berkumpul, dan satu suara yang ingin dibawa pulang.
Enam penghuni kos, satu galon bersama, dan pertanyaan yang memecah persahabatan: siapa yang tidak pernah ganti galon?
Kamar kosong nomor tujuh, jam dinding yang berhenti di 02.17, dan ibu kos yang menyimpan cerita.
Enam tahun ibunya bekerja di Hong Kong. Dita punya satu permintaan, dan satu buku catatan untuk membuktikannya.
Empat siswa, empat ponsel biasa, dan satu lomba foto yang tidak menunggu siapa pun siap.
Seorang anak yang dulu menolak belajar membatik, seorang ayah yang tangannya mulai gemetar, dan satu kain yang harus selesai tepat waktu.
Stasiun tua yang akan ditutup, seorang mahasiswi yang memotret dengan ponsel, dan peron yang sudah dibongkar sejak 1982 tapi masih ramai setiap pukul 21.40.
Pensiunan yang datang ke rapat demi gorengan, pulang membawa buku kas dan tiga grup WhatsApp.
Di pulau paling selatan Indonesia, sebatang pensil warna biru menjadi rebutan, lalu menjadi hadiah.
Delapan kota, delapan cerita pendek tentang orang-orang biasa dan hari yang tidak biasa.
Dua termos teh, satu kursi tunggu, dan cinta yang datang di usia tujuh puluh.
Cerita tiga episode tentang anak Makassar, angin timur, dan surat untuk ayah di tengah laut.
Dua puluh dua tahun mengantar anak-anak sekolah, satu hari terakhir sebelum pensiun, dan klakson tiga kali yang selalu ditunggu.
Fotografer yang selalu dikejar tenggat, dan perajin batik tulis yang tidak bisa dipercepat.
Tiga dapur, tiga resep, dan tiga orang yang akhirnya mengerti bahwa takaran terbaik tidak pernah tertulis.
Dua belas tahun merantau, satu surat PHK, dan perjalanan panjang pulang ke kaki Rinjani.
Kapal penyeberangan tengah malam, seorang sopir truk, dan anak kecil yang mencari ayahnya di antara roda-roda.
Setiap Jumat, uang kas kelas berkurang lima puluh ribu. Setiap Senin, uangnya kembali. Bau cuko.
Siswi pindahan dari Rote, logat yang ditertawakan, dan satu siswa yang selama ini memilih diam.
Sejak Mama meninggal, bekal Grace selalu nasi goreng gosong. Sampai Bapak menemukan buku resep bertinta ungu.
Minimarket buka di seberang jalan, cucu bilang "jualan online saja, Nek", dan kekacauan pun dimulai.
Empat puluh tahun lalu ia meminjam sebuah lentera. Kini ia naik kereta melintasi Jawa untuk mengembalikannya.
Warisan kakek: kedai yang hampir bangkrut, dan buku catatan berisi rahasia para pelanggannya.