Ketuk, Salam, Tunggu: Salam dari Pintu Depan, Cerita Anak tentang Adab Bertamu
Fikri haus, lalu membuka pintu rumah Nenek sekeras-kerasnya. Brak! Cerita bergambar untuk anak 4–8 tahun tentang mengetuk, mengucap salam, dan sabar menunggu jawaban.
Tok-tok-tok, assalamualaikum. Tunggu dijawab, baru masuk!
Anak-anak suka berlari, dan pintu sering kali hanya penghalang kecil menuju air minum, mainan, atau pelukan Nenek. Tak heran, adab bertamu termasuk hal yang harus diingatkan berkali-kali. Apalagi saat berkunjung ke rumah saudara atau tetangga, ketika kita ingin si kecil bersikap sopan tanpa harus ditegur di depan orang lain.
Salam dari Pintu Depan membuat adab ini mudah diingat: ada urutannya, ada bunyinya, dan ada dendangnya.
Brak!
Hari Minggu pagi, Hana dan adiknya, Fikri, ikut Ayah ke rumah Nenek. Mereka bermain bola di halaman, sampai Fikri kehausan. Tap, tap, tap! Ia berlari ke pintu depan.
BRAK!
Nenek yang sedang merajut terlonjak, dan gulungan benangnya menggelinding ke mana-mana. Tidak ada yang dimarahi di sini. Nenek hanya kaget, dan Ayah mengajari Hana dan Fikri cara menyapa pintu: ketuk pelan, ucapkan salam, lalu tunggu dijawab.
Kedengarannya mudah. Sampai pintu rumah Bu Wati ternyata sedikit terbuka, dan tiga kali salam tidak ada yang menjawab. Masuk saja, atau pulang dulu? Inilah bagian yang akan membuat si kecil ikut berpikir, dan jawabannya ada di dalam buku.
Kenapa cerita ini mudah menempel
Anak usia 4–8 tahun lebih mudah mengingat langkah daripada nasihat. Di sini adab bertamu menjadi tiga langkah yang jelas: ketuk, salam, tunggu. Anak bisa menghitungnya dengan jari dan mempraktikkannya di pintu kamar sendiri.
Yang istimewa, cerita ini tidak berhenti pada situasi mudah. Pintu yang sedikit terbuka adalah ujian sungguhan, jenis situasi yang tidak selalu sempat kita bahas dengan anak. Lewat Hana dan Fikri, si kecil belajar bahwa menghormati rumah orang tetap berlaku, bahkan saat tidak ada yang melihat.
Bunyi-bunyiannya enak dimainkan: brak, dug-dug-dug, kriet, dan tentu saja tok-tok-tok. Sambil membaca, ketuk meja bersama anak dan ucapkan salamnya bersama-sama.
Tips kecil: saat tiba di pintu rumah Bu Wati, berhentilah dan tanyakan, "Menurutmu, Hana dan Fikri sebaiknya bagaimana?" Biarkan anak menjawab sebelum membalik halaman.
Latihan paling seru: pintu kamar
Setelah membaca, jadikan ini permainan. Si kecil menjadi tamu, Ayah atau Bunda menjadi tuan rumah di balik pintu kamar. Tok-tok-tok! Bergantian perannya, lalu sengaja tunda jawaban agar ia berlatih menunggu. Beberapa kali bermain biasanya lebih mengena daripada banyak teguran.
Buku ini juga pas dibacakan menjelang kunjungan ke rumah kakek-nenek, saudara, atau saat Lebaran, ketika anak akan mengetuk banyak pintu.
Ngobrol dan bermain
Setelah cerita, halaman "Ayo ngobrol!" mengajak anak membicarakan pengalamannya bertamu. Ada juga dua halaman aktivitas yang boleh dicetak: cari dan hitung, serta sambung titik. Ingin aktivitas lain? Ambil lembar aktivitas anak gratis.
Lengkapi dengan seri Adab & Akhlak
Salam dari Pintu Depan adalah bagian dari Paket Cerita Anak: Adab & Akhlak, bersama Tolong, Maaf, Terima Kasih, Pelukan untuk Ibu, Antre, Yuk!, dan Kotak Pensil yang Jujur. Membeli paket lebih hemat daripada satu per satu. Lihat di halaman buku atau rak Cerita Anak.
Coba ketuk pintu kamar si kecil malam ini. Siapa tahu ia sudah siap menjawab salam Anda.
Pelajari sampai tuntas di “Salam dari Pintu Depan”
Fikri haus, lalu berlari ke rumah Nenek dan membuka pintu sekeras-kerasnya. Brak! Nenek terlonjak, gulungan benangnya menggelinding ke mana-mana.