🛠️ Pembayaran sedang dalam perbaikan (maintenance). Kamu tetap bisa mendaftar, membaca ebook gratis dan menyimpan ebook ke keranjang.
Cerita Anak

Satu-Satu, Jangan Terburu: Antre, Yuk!, Cerita Anak tentang Belajar Menunggu Giliran

Bayu selalu ingin jadi yang pertama, tapi barisan di kantin panjang sekali. Cerita bergambar untuk anak 4–8 tahun tentang sabar menunggu giliran, lengkap dengan dendang yang mudah diingat.

BukuPraktis · 06 November 2026 · 3 menit baca

Satu-satu, jangan terburu. Antre, yuk, tunggu giliranmu!

Coba dendangkan kalimat itu. Mudah menempel, kan? Dendang inilah yang menemani Bayu, anak yang selalu ingin jadi nomor satu, dan bisa jadi akan menemani si kecil di depan wastafel, ayunan, dan kasir.

Bagi anak kecil, menunggu itu sungguh berat. Satu menit bisa terasa seperti satu jam. Karena itu "ayo antre" sering tidak cukup. Anak perlu melihat sendiri mengapa giliran itu penting, dan bahwa gilirannya pasti datang.

Bel berbunyi, Bayu melesat

Kriiing! Bel istirahat berbunyi, dan Bayu melesat keluar kelas paling dulu. Tap, tap, tap! Dari kantin tercium wangi pisang goreng. Perutnya berbunyi. Kruuuk! Tapi barisannya panjang sekali.

Kaki Bayu tidak bisa diam. Dug, dug, dug! Lalu ia melihat celah kecil di depan. Hmm...

Serobot! Ting, ting, ting! Koin Dini jatuh tersenggol, dan semua menatap Bayu.

Dari kantin, cerita berlanjut ke ayunan taman dan tempat cuci tangan. Apa yang akan dilakukan Bayu saat gilirannya benar-benar diuji? Biarkan si kecil menemukannya sendiri.

Kenapa anak mudah terhubung dengan Bayu

Bayu bukan anak nakal. Ia lapar, tidak sabar, dan takut kehabisan, perasaan yang dikenal semua anak. Karena itu, si kecil tidak merasa sedang dinasihati. Ia justru ikut deg-degan bersama Bayu, ikut malu saat semua menatap, dan ikut lega saat keadaan membaik.

Cerita ini juga mengajarkan hal yang sering terlewat: menunggu giliran bukan sekadar aturan, melainkan cara menjaga perasaan teman. Saat koin Dini jatuh, anak bisa melihat langsung akibat dari menyerobot.

Bunyi-bunyiannya membuat suasana membaca jadi ramai: kriiing, dug dug dug, kreet, cur cur cur, kriuk. Ilustrasinya penuh warna dan kalimatnya pendek, enak dibacakan atau dibaca sendiri oleh anak yang mulai lancar.

Tips kecil: saat Bayu menyerobot, berhenti sejenak dan tanyakan, "Menurutmu, bagaimana perasaan Dini?" Pertanyaan sesederhana ini melatih anak melihat dari sudut pandang orang lain.

Bawa dendangnya ke mana-mana

Inilah kelebihan buku ini: dendangnya bisa dipakai di dunia nyata. Saat menunggu di wastafel, mengantre jajan, atau berebut mainan dengan saudara, cukup mulai dengan "Satu-satu..." dan biarkan si kecil yang melanjutkan. Menunggu pun terasa lebih ringan karena ada yang bisa dilakukan selama menunggu: bernyanyi.

Guru TK dan SD kelas awal juga bisa memakainya untuk mengatur barisan di kelas.

Ngobrol dan bermain

Setelah cerita, halaman "Ayo ngobrol!" mengajak anak bercerita kapan ia pernah harus menunggu. Ada juga dua halaman aktivitas yang boleh dicetak: cari dan hitung, serta sambung titik. Ingin aktivitas lain? Ambil lembar aktivitas anak gratis.

Lengkapi dengan seri Adab & Akhlak

Antre, Yuk! adalah bagian dari Paket Cerita Anak: Adab & Akhlak, bersama Tolong, Maaf, Terima Kasih, Pelukan untuk Ibu, Kotak Pensil yang Jujur, dan Salam dari Pintu Depan. Membeli paket lebih hemat daripada satu per satu. Lihat di halaman buku atau rak Cerita Anak.

Lain kali barisan terasa panjang, coba dendangkan bersama. Satu-satu, jangan terburu.

Mau lebih lengkap?

Pelajari sampai tuntas di “Antre, Yuk!”

Kriiing! Bel istirahat berbunyi, dan Bayu melesat paling dulu. Bayu selalu ingin jadi yang pertama. Tapi di kantin, barisan pisang goreng panjang sekali.

Rp15.000 Lihat isi buku
Cukup masuk akun, tanpa bayar

Ebook gratis untukmu

Baca juga

Artikel lainnya

Semua artikel

Konfirmasi