Kebaya yang Terbang Lebih Dulu
Bu Ratna naik kapal tiga menit sebelum tangga ditarik. Arman menunggunya di ujung tangga dengan wajah pucat, lalu nyaris memeluknya karena lega. Tas biru milik Pak Haris ia titipkan kepada Accung, yang berjanji mengantarnya ke rumah Pak Haris di Maros sore itu juga, dan mengambil kebaya untuk diserahkan kepada sepupunya.
"Accung," kata Bu Ratna di dermaga sebelum naik, menggenggam tangan anak itu. "Kenapa kamu mau repot begini?"
Accung mengangkat bahu. "Mama saya dulu juga menikah tanpa kebaya bagus, Bu. Katanya sampai sekarang masih sedih kalau lihat foto nikahnya." Ia nyengir. "Jadi Nona Ita jangan."
Kapal menjauh dari Makassar. Bu Ratna berdiri di pagar dek, memandangi dermaga yang mengecil, sampai sosok kurus dengan kaus klub sepak bola itu tidak terlihat lagi.
Dua hari berikutnya adalah dua hari terpanjang dalam hidup Bu Ratna.
Ia mengurus dua puluh dua titipan lainnya seperti biasa: memeriksa toples sambal setiap pagi agar tidak bocor, memastikan seragam Pance tidak tertindih, menghitung ulang bumbu rawon Mbak Yuli. Tetapi pikirannya terus di Makassar.
Sepupu Accung bernama Kak Lina, perawat di sebuah rumah sakit di Makassar. Lewat telepon, suaranya tenang dan ramah. Ia sudah menerima kebaya dari Accung, memeriksa isinya bersama Bu Ratna lewat panggilan video yang sinyalnya putus-putus di tengah laut, dan menyimpannya tergantung di lemari, bukan dilipat.
"Saya bawa di kabin, Bu. Tidak masuk bagasi. Saya pangku kalau perlu."
"Kak Lina, saya harus bayar berapa?"
"Bayar apa, Bu? Saya memang mau ke Ambon." Ia tertawa. "Anggap saja saya ikut jadi jasa titip satu hari."
Bu Ratna menutup telepon dan memandangi laut lama sekali.
Yang paling berat justru menelepon Mama Lies. Bu Ratna sempat menunda sehari, berharap entah bagaimana masalahnya selesai sendiri. Lalu ia ingat kata-katanya sendiri kepada Arman: dipercaya itu lebih berat dari barang. Orang yang dipercaya tidak boleh menyembunyikan kabar buruk.
Mama Lies diam lama di telepon setelah mendengar ceritanya. Bu Ratna menyiapkan diri untuk dimarahi.
"Ratna," kata Mama Lies akhirnya. "Ose pung suara gemetar. Ose su makan atau belum?"
Bu Ratna menutup mulutnya dengan tangan.
"Kebaya itu kain. Kalau tidak sampai, Ita bisa pakai kebaya beta dulu, sudah dikecilkan sedikit. Yang penting ose selamat sampai sini. Ose tamu di nikahan, jangan lupa."
Kapal sandar di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, pada Kamis pagi. Teluk Ambon biru tenang, dikelilingi bukit-bukit hijau yang rumah-rumahnya berwarna-warni seperti permen. Di dermaga, para pelanggan Bu Ratna sudah menunggu, sebagian membawa anak, sebagian membawa pisang goreng untuk penyambutan.
Mbak Yuli menangis ketika membuka bungkus bumbu rawon, persis seperti yang Bu Ratna ceritakan kepada Arman. Rio langsung memakai sepatu bolanya di dermaga dan berlari bolak-balik sampai ditegur petugas. Mama Ece mencicipi sambal langsung dari toples dengan ujung jari dan berteriak bahwa sambalnya kurang pedas, seperti setiap kali.
Lalu Mama Lies datang bersama Ita. Calon pengantin itu kurus, berkacamata, dengan senyum yang membuat Bu Ratna teringat gadis kecil yang dulu menitip pensil warna.
"Tante Ratna," kata Ita, memeluknya. "Mama sudah cerita. Tidak apa-apa."
"Besok," kata Bu Ratna. "Besok sore. Insya Allah."
Jumat sore, Bu Ratna, Mama Lies, dan Ita berdiri di pintu kedatangan bandara. Pesawat dari Makassar mendarat tepat waktu, tetapi penumpang keluar satu per satu dengan sangat lambat, setiap orang seperti sengaja berjalan pelan.
Lalu seorang perempuan muda berkerudung abu-abu keluar sambil mengangkat sebuah gantungan baju yang dibungkus plastik bening tinggi-tinggi di atas kepala, seperti pembawa obor. Di dalam plastik itu, kebaya putih gading berkilau lembut di bawah lampu bandara.
"Bu Ratna?" panggil Kak Lina.
Bu Ratna tidak menjawab. Ia berlari, lupa umur, lupa pinggang yang sakit, dan memeluk Kak Lina beserta kebaya itu sekaligus.
Ita menerima kebayanya dengan dua tangan. Tidak ada satu pun payet yang lepas. Tidak ada satu pun lipatan. Di dalam plastik terselip secarik kertas bertulisan tangan Pak Haris: Mohon maaf atas kelalaian saya. Semoga bahagia sampai tua. Salam dari Maros. Dan di bawahnya, dengan tulisan yang lebih berantakan: Selamat menikah, Kak Ita. Dari Accung.
Pernikahan itu berlangsung Sabtu pagi di sebuah gereja tua di Ambon, lalu resepsi di halaman rumah Mama Lies yang dinaungi pohon gandaria. Bu Ratna duduk di antara tamu, memakai kebaya terbaiknya, ikut menangis bersama ibu-ibu lain ketika Ita berjalan masuk dengan kebaya putih gading yang berkilau.
Kak Lina juga datang, diundang langsung oleh Mama Lies. Di meja makan, mereka berfoto bersama dan mengirimkan foto itu kepada Accung, kepada Pak Haris, dan kepada Arman yang kapalnya sudah berlayar kembali ke barat.
Balasan Accung datang beberapa menit kemudian: tiga stiker jempol dan satu kalimat. Mantap, Bu. Kalau titip lagi, kabari saya.
Malam itu, di kamar penginapan, Bu Ratna membuka buku tulis bersampul batik dan menambahkan satu aturan baru di halaman pertama, ditulis dengan tinta merah dan digarisbawahi dua kali:
Titipan yang paling penting dibawa di badan. Tidak dititipkan, meski hanya lima menit.
Lalu, di bawahnya, ia menambahkan satu baris lagi dengan tinta biru, lebih kecil:
Tapi kalau tetap hilang, percayalah: di setiap pelabuhan ada orang baik.
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!