Sepeda Bu Wulan
Bu Wulan mengajar kelas tiga di sebuah SD negeri di pinggir Kota Malang, di jalan menanjak yang kalau pagi berkabut dan kalau sore berbau tanah basah. Ia sudah sembilan tahun menjadi guru honorer. Sembilan tahun pula ia berangkat dengan sepeda yang sama: sepeda ontel hitam peninggalan bapaknya, dengan keranjang rotan di depan dan bel yang bunyinya lebih mirip batuk daripada dering.
Murid-muridnya menyebut sepeda itu "Pak Kuda". Entah siapa yang memulai. Mungkin karena bunyinya yang berderit setiap kali menanjak, seperti kuda tua yang mengeluh.
Gaji Bu Wulan tidak besar. Kalau dihitung-hitung, cukup untuk membayar kos, makan sederhana, dan sesekali membelikan pensil warna untuk murid yang lupa membawa. Untuk kebutuhan lain, ia membuka les membaca di rumah kosnya setiap sore. Bayarannya terserah orang tua. Kadang uang, kadang sekarung beras, kadang sekantong apel dari Batu.
"Bu Wulan itu kalau dibayar apel, senyumnya lebih lebar daripada dibayar uang," kata Bu Endang, pemilik kos, suatu kali.
"Apel kan bisa dimakan langsung, Bu," jawab Bu Wulan. "Uang harus dibelanjakan dulu."
Hari Senin itu, Bu Wulan menemukan Pak Kuda tergeletak di parkiran sekolah dengan ban belakang yang kempis dan jari-jari yang bengkok. Seseorang menabraknya dengan motor, lalu pergi begitu saja.
Ia berdiri lama memandangi sepeda itu. Bukan soal harganya. Sepeda tua seperti itu tidak akan laku mahal kalau dijual. Tapi setiap baut di sepeda itu pernah disentuh tangan bapaknya. Setiap goresan punya cerita.
"Bu, Pak Kuda kenapa?"
Dimas, murid kelas tiga yang paling sering terlambat, berdiri di belakangnya dengan wajah cemas.
"Ditabrak orang, Dimas. Tidak apa-apa. Nanti Ibu bawa ke bengkel."
Tapi bengkel sepeda ontel di Malang tidak banyak lagi. Yang satu sudah tutup karena pemiliknya meninggal. Yang lain memasang harga yang membuat Bu Wulan menelan ludah. Untuk mengganti velg dan jari-jari dengan suku cadang lama, biayanya hampir setengah gaji sebulan.
Maka selama dua minggu, Bu Wulan berangkat jalan kaki. Empat puluh menit menanjak setiap pagi, empat puluh menit menurun setiap sore. Ia sampai di sekolah dengan napas tersengal dan sepatu berdebu, tapi ia tetap tersenyum di depan kelas.
Murid-muridnya memperhatikan. Anak-anak selalu memperhatikan lebih dari yang dikira orang dewasa. Mereka melihat Bu Wulan menyeka keringat di dahi sebelum membuka buku absen. Mereka melihat sepatunya yang mulai berlubang di ujung. Mereka melihat ia makan bekal nasi dan tempe di meja guru, sendirian, karena uang jajannya habis untuk ongkos angkot hari-hari ketika hujan terlalu deras untuk berjalan.
Suatu siang, Dimas tinggal di kelas setelah bel pulang berbunyi. Ia berdiri di dekat jendela, memandangi parkiran tempat Pak Kuda masih tergeletak dengan rodanya yang bengkok.
"Bu, Pak Kuda sakit, ya?"
"Sakit sedikit, Dimas. Nanti sembuh."
"Kalau sakit harus ke dokter, Bu."
Bu Wulan tersenyum. "Dokter sepeda mahal, Dimas."
Dimas tidak bertanya lagi. Tapi sore itu ia pulang dengan wajah orang yang sedang memikirkan sesuatu yang besar.
Pada hari Jumat minggu kedua, setelah upacara, kepala sekolah memanggil Bu Wulan ke ruang guru.
"Bu Wulan, ada yang mencari."
Di ruang guru, seorang lelaki tua berkopiah duduk dengan sabar. Bajunya penuh noda oli. Di sampingnya berdiri Dimas, menunduk.
"Ini kakek saya, Bu," kata Dimas pelan. "Kakek tukang sepeda."
Lelaki itu tersenyum. Giginya tinggal beberapa. "Saya Mbah Karto, Bu. Cucu saya cerita, sepeda Ibu rusak. Katanya Ibu jalan kaki setiap hari."
Bu Wulan tidak tahu harus berkata apa.
"Saya dulu punya bengkel di Pasar Besar," lanjut Mbah Karto. "Sekarang sudah tidak buka, tapi alat-alat masih ada di rumah. Suku cadang lama juga masih banyak. Sayang kalau berkarat. Boleh sepeda Ibu saya perbaiki?"
"Saya bayar, Mbah. Berapa?"
Mbah Karto menggeleng. "Ibu sudah bayar, kok."
"Bayar apa, Mbah?"
Mbah Karto menepuk kepala cucunya. "Anak ini dulu tidak bisa membaca. Kelas dua masih mengeja. Saya malu, Bu, karena saya sendiri tidak sekolah, jadi tidak bisa mengajari. Sekarang setiap malam dia membacakan koran untuk saya. Katanya, Bu Wulan yang mengajari dia membaca pakai kartu huruf buatan sendiri. Gratis, karena dia ikut les di kos Ibu tapi tidak pernah bayar."
Bu Wulan ingat. Dimas datang ke les dengan sandal jepit, setiap sore, selama satu semester. Ia tidak pernah meminta bayaran, karena ia tahu anak itu tinggal berdua dengan kakeknya.
"Itu bukan apa-apa, Mbah."
"Bagi Ibu bukan apa-apa," kata Mbah Karto. "Bagi saya, itu cucu yang bisa membacakan koran untuk kakeknya sebelum tidur."
Seminggu kemudian, Pak Kuda kembali.
Bu Wulan hampir tidak mengenalinya. Velgnya baru, tapi model lama yang sama persis. Jari-jarinya lurus dan mengilap. Rantainya diganti, sadelnya dijahit ulang dengan kulit cokelat. Bel batuknya sudah diganti bel kuningan yang bunyinya nyaring dan jernih.
Dan di keranjang rotan di depan, ada sesuatu yang baru: sebuah papan kayu kecil, dicat putih, dengan tulisan tangan anak-anak yang huruf-hurufnya miring ke sana kemari.
PAK KUDA. MILIK BU WULAN. GURU YANG MENGAJARI KAMI MEMBACA.
Di bawahnya, ada dua puluh tiga nama. Semua murid kelas tiga. Nama Dimas paling besar, ditulis paling akhir, dengan tanda seru di ujungnya.
"Mbah yang buat papannya," kata Dimas. "Tapi tulisannya kami. Kami latihan dulu di buku, Bu, biar tidak salah."
Bu Wulan membaca nama-nama itu satu per satu. Ada yang hurufnya terbalik. Ada yang kehabisan tempat dan menulis ke pinggir. Tapi semuanya bisa dibaca.
Ia tidak menangis di depan murid-muridnya. Ia menahannya sampai pulang, menuruni jalan berkabut dengan Pak Kuda yang kini tidak lagi berderit, sambil membunyikan bel kuningan yang baru setiap kali melewati rumah salah satu muridnya.
Sesampainya di kos, Bu Endang sedang menyapu teras. Ia melihat papan di keranjang sepeda itu dan membaca tulisannya keras-keras.
"Wah, Bu Wulan. Ini bayaran paling mahal yang pernah Ibu terima."
Bu Wulan tersenyum. "Lebih mahal daripada apel, Bu."
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!