Anak warung kopi, gadis yang membeku di depan mikrofon, dan anak asrama dari hulu Kapuas melawan sekolah juara bertahan.
Di sebuah SMA negeri di Pontianak, Bu Sekar hanya punya tiga minggu untuk membentuk tim debat bahasa Inggris, dan yang tersisa hanyalah tiga siswa yang tidak pernah ia bayangkan: Rahmat yang selalu terlambat karena membantu ayahnya di warung kopi, Mei Lin yang menulis argumen paling tajam tapi membeku begitu berdiri, dan Agustinus dari Kapuas Hulu yang lebih pandai membuat orang tertawa daripada membuat mereka setuju. Lawan mereka adalah tim juara bertahan yang sudah berlatih sejak SMP. Ini cerita tentang belajar bicara, dan lebih penting lagi, belajar mendengar.
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!