Kucing Bermuka Baru
"Dua puluh tujuh," kata Yohanes sambil menutup buku besar bersampul plastik biru. "Kucing pilot sudah dipinjam dua puluh tujuh kali, Bu. Kancil baru sembilan belas."
Bu Sari tertawa. Buku besar itu dulunya buku absen bekas yang tinggal separuh. Sekarang di sampulnya tertulis dengan spidol, huruf besar-besar dan agak miring: BUKU PINJAM PERPUSTAKAAN SUNGAI. Yohanes yang menulisnya. Yohanes juga yang mengusulkan nama itu, karena, katanya, semua bukunya pernah berenang.
Sudah lima minggu sejak riam. Pak Lambang membuatkan rak dari papan sisa pembangunan gereja, dipaku di dinding ruang guru, dan rak itu kini penuh buku yang halamannya bergelombang seperti atap seng. Baunya masih bau sungai kalau didekatkan ke hidung. Anak-anak bilang itu bau yang enak.
Dan di rak paling atas, di tengah, berdiri buku kucing pilot dengan sampul baru.
Yohanes menggambarnya di atas kertas karton bekas kotak kapur, lalu menempelkannya dengan lem kanji buatan ibunya. Kucingnya kini berwarna oranye, memakai topi pilot dari daun, dan duduk di kokpit sebuah perahu panjang bersayap. Di bawah sayapnya mengalir sungai berbuih putih.
"Kenapa pesawatnya jadi perahu?" tanya Bu Sari waktu pertama kali melihatnya.
"Supaya kucingnya bisa lewat riam, Bu. Kalau jatuh, tidak apa-apa. Perahu bisa terbang, bisa berenang."
Sinyal di kampung itu hanya ada di satu tempat: di bukit kecil di belakang gereja, di dekat makam tua, dan hanya kalau ponsel diangkat tinggi-tinggi seperti orang menawarkan sesuatu kepada langit. Anak-anak menyebutnya Bukit Sinyal.
Setiap Sabtu sore Bu Sari naik ke sana. Biasanya untuk menelepon ibunya di Pontianak. Tetapi lima minggu terakhir, ia naik untuk sesuatu yang lain.
Ibu dari Bandung itu bernama Bu Hesti. Ia membalas pesan pertama Bu Sari dengan pesan suara yang panjang, dan di tengah pesan itu suaranya pecah. Ia bilang ia sudah melihat foto buku-buku dijemur di atas batu itu belasan kali. Ia bilang anaknya, Dimas, yang dulu punya buku kucing pilot, sekarang kuliah semester lima, dan malam itu Dimas menelepon dari kosnya hanya untuk bertanya, "Ma, itu benar buku Dimas?"
Sabtu itu, ketika ponsel Bu Sari akhirnya menangkap dua garis sinyal, masuk satu pesan baru dari Bu Hesti.
Bu Sari, Dimas libur semester bulan depan. Kami sudah beli tiket ke Pontianak. Kami bawa dua kotak lagi. Dimas ingin sekali bertemu anak yang menggambar ulang kucingnya. Boleh, Bu?
Bu Sari membaca pesan itu tiga kali. Lalu ia tertawa sendirian di antara makam-makam tua, sampai seekor anjing kampung menggonggong curiga dari bawah bukit.
Tahun depan, dua kotak, tulisnya sebulan lalu. Ternyata tidak perlu menunggu tahun depan.
Senin pagi, Yohanes tidak datang.
Bu Sari tidak terlalu memikirkannya. Di kampung itu, anak-anak sesekali bolos untuk membantu orang tua menyadap karet atau menjala ikan saat air sedang bagus. Biasanya mereka kembali dua hari kemudian, malu-malu, dengan alasan yang sama: "Ikut Bapak, Bu."
Tetapi Selasa ia tidak datang. Rabu juga tidak.
Hari Rabu, saat jam istirahat, Bu Sari menemukan buku besar bersampul biru itu di mejanya. Ia tidak ingat menaruhnya di situ. Buku itu biasanya disimpan Yohanes di laci rak, dan tidak ada yang boleh menyentuhnya kecuali dia.
Ia membuka halaman terakhir. Di bawah daftar peminjam, dengan tulisan Yohanes yang miring, ada satu baris baru:
Petugas perpustakaan diganti sementara oleh Agustina kelas 4. Dia teliti. Kucing pilot jangan dipinjamkan ke Rio, dia suka melipat halaman.
Di bawahnya, satu baris lagi, lebih kecil:
Terima kasih, Bu Guru.
Bu Sari merasa ada yang dingin merambat di tengkuknya.
Rumah Yohanes ada di ujung kampung, rumah panggung kecil dengan tangga kayu yang anak tangga ketiganya sudah patah. Di kolong rumah, ayam-ayam berkerumun. Ibu Yohanes sedang menumbuk sesuatu di lesung ketika Bu Sari datang, dan ia berhenti menumbuk terlalu cepat, seperti orang yang sudah menunggu tamu ini dan berharap ia tidak datang.
"Yohanes ikut bapaknya, Bu," katanya sebelum Bu Sari bertanya. "Ke atas."
"Ke atas mana, Bu?"
Ibu itu menunjuk ke arah hulu dengan dagunya. Ke arah riam, dan lebih jauh dari riam. Bu Sari tahu apa yang ada di sana. Semua orang di kampung tahu. Lanting, rakit-rakit bermesin yang menyedot pasir dasar sungai untuk dicari butiran emasnya. Pekerjaan berat, siang malam, di atas air.
"Berapa lama?"
"Tiga bulan, Bu. Sampai utang lunas."
"Utang ke siapa?"
Ibu Yohanes diam. Ia menunduk dan mulai menumbuk lagi, pelan, seakan-akan alu itu bisa menjawab untuknya.
Bu Sari berdiri di halaman itu lama. Lalu ia teringat sesuatu. Dua minggu lalu, sepulang sekolah, Yohanes pernah datang ke ruang guru membawa selembar kertas kusut. Ia bertanya dengan suara pelan, tidak seperti biasanya.
"Bu, kalau angka ditulis begini, bacanya berapa?"
Bu Sari waktu itu sedang sibuk memeriksa buku tulis kelas tiga. Ia melirik sekilas, menyebutkan angkanya, dan Yohanes mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu pergi. Ia bahkan tidak bertanya kertas apa itu.
Sekarang ia ingat wajah anak itu saat mendengar angkanya. Bukan wajah anak yang baru belajar membaca bilangan. Itu wajah anak yang baru saja menemukan sesuatu yang tidak beres, dan tidak tahu harus bercerita kepada siapa.
Malam itu Bu Sari tidak bisa tidur. Ia duduk di beranda rumah dinas guru, di bawah lampu tenaga surya yang cahayanya kekuningan, dan mendengarkan sungai.
Sekitar pukul sembilan, terdengar langkah di tangga. Pak Lambang naik membawa senter, celananya basah sampai lutut.
"Saya dengar Ibu ke rumah Daud tadi," katanya. Ia duduk di anak tangga paling atas tanpa dipersilakan, seperti kebiasaan orang kampung yang sudah menganggap seseorang keluarga. "Saya mau bilang satu hal, Bu Guru. Jangan ke atas sendirian."
"Jadi Bapak tahu utangnya ke siapa?"
Pak Lambang tidak langsung menjawab. Ia memandangi sungai yang hitam, tempat lampu-lampu kecil perahu nelayan bergerak pelan seperti kunang-kunang.
"Semua orang tahu, Bu. Itu sebabnya tidak ada yang bilang."
Lalu ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan selembar kertas terlipat, basah di ujungnya.
"Anak itu menitipkan ini ke anak saya sebelum berangkat. Katanya, kasih ke Bu Guru, tapi jangan sampai bapaknya tahu."
Bu Sari membuka kertas itu di bawah lampu kuning.
Itu nota utang. Tulisan tangan orang dewasa, rapi dan percaya diri. Di bagian bawah ada cap jempol berwarna ungu. Dan di pinggir nota, dengan pensil, dengan tulisan miring yang sangat ia kenal, ada satu kalimat yang dilingkari dua kali:
Bu, Bapak pinjam satu juta lima ratus. Kenapa di sini tiga juta lima ratus?
Komentar pembaca 0
Masuk atau buat akun gratis untuk berkomentar dan memberi bintang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!